web 2.0

2/03/2009

Chapter I

Sepenggal kisah hidup seorang air talent di ibukota...


How to get in to a radio

Radio, tahu dong itu tuh satu alat yang suka didenger kalo lagi di jalan, nemenin pas lagi di dalam kendaraan entah lagi di kendaraan sendiri, kendaraan temen, kendaraan gebetan dan tentunya kendaraan umum…
Gw pernah baca bahwa seorang Indy Barends pernah bingung ngedenger orang yang siaran di radio. Itu orang kaya orang gila ya… ngomong2 sendiri di dalem studio n guess what she became one of Indonesia significant air talent.

Nah, pertanyaannya pernah gak siy elo penasaran bagaimana rasanya jadi seorang yang bercuap-cuap di belakang mic menemani pendengar via udara? Kalo pernah berarti kita senasib bos. Saking penasarannya buat jadi penyiar di kota Jakarta pas lagi ada lowongan di internet ada satu radio lagi buka lowongan langsung aja siapin cv n persiapan dikirim ke radio terkait (kaya mancing ya pake terkait?)

Proses buat masuk radio gimana siy? Tesnya apa aja siy? Musti orang yang jago ngomong ya? Bahasa inggrisnya musti bagus ya? Waktu interview ditanya apa aja ya? Pertanyaan-pertanyaannya yang seperti ini kayanya wajar aja ya ditanyain ke setiap bidang pekerjaan… tapi paling sakit hati itu kalo ada pertanyaan kok lo bisa masuk siy? (siall…. kesannya meragukan banget) anyway… berikut cerita pas proses interview masuk jadi penyiar.

Owkey, setelah kirim lamaran, nunggu panggilan akhirnya dipanggil juga buat interview. Pas masuk ruang tamu langsung duduk di sofa, since it was my first job interview jadi rapi jalilah gw. Lagi nunggu masuk satu cewe, (feeling kaya kenal tiba2 muncul…) eh bener aja ternyata itu sindy ( temen sekolah dulu denger2 sekarang udah bikin buku n jadi penulis cari aja pengarang yang namnya Nurkastelia A.S) yang gw tahu punya skill bahasa n musik jauh di atas gw (mulai jiper). Gak lama muncul lagi beberapa orang diantaranya ada yang udah siaran di radio swasta lain di Jakarta, ada yang kerja di televisi swasta, guru les dari lembaga bahasa yang terdiri dari dua huruf, bahkan ada juga penyiar mayan senior yang datang dari Jogjakarta spesial buat interview. (semakin jiper…)

Berhubung banyak diantara para pelamar kerja sudah berstatus bekerja di tempat lain, sambil nunggu giliran interview kita justru lebih banyak becanda dan bagi cerita (buat orang yang masih gak ada pengalaman ini hanya menambah deras laju keringat dingin) akhirnya tes dimulai kita dipanggil satu-satu buat tes vocal.

Satu syarat buat penyiar radio adalah tes Vokal, kadang di iklan lowongan disertakan syarat harap lampirkan sample rekaman suara. Nah satu pertanyaan yang muncul adalah bentuk sample rekaman suara buat cv kaya gimana siy? Ada temen pernah cerita bahwa seseorang butuh kurang dari 7 detik buat merasa akrab dan nyaman dengan satu suara (jangan nanya sumbernya ya… anonym) untuk lamaran kerja kalo memang radio tersebut mensyaratkan sample vocal ada baiknya sertakan rekaman suara yang berisi contoh suara kita yang menjadi penyiar radio tersebut.
Pada rekaman tersebut awalnya kita sebut dong callers id radio tersebut… biar enak ambil aja contoh opening siaran dari tiap acara pada radio yang mau kita apply. Dan coba atur suara kita biar terdengar seperti penyiar radio itu. Dan isi rekaman gak usah panjang2 perkenalan diri sekedar nama aja… (kan data lengkap ada di cv) kalo ada yang nanya gimana biar terdengar kaya penyiar radio. Dengerin aja yang rajin radio itu nanti juga kebawa nuansa penyiarnya… (karena gaya bicara itu menular lhoh believe it or not it is very contagious)

Sambil menunggu giliran nampak tiap orang berusaha untuk membiasakan diri menyebut caller’s id radionya. Sampai tiba giliran gw tes vocal, masuk dalam satu ruangan produksi. (ruang produksi : ruang buat bikin produksi suara seperti jingle, chart, iklan, dll) kelar tes lanjut ke ujian tertulis. (yup masuk radio yang pake ujian tertulis…) bukan hanya psikotes tapi juga ada tes yang menguji pengetahuan musik para pelamar. Kita duduk di satu meja besar dan diputarkan satu bagian dari lagu. Lagu yang diputarkan ada kurang lebih 20, bervariasi mulai dari tahun 80’an sampai yang terbaru.

Tingkat kompetisi mulai meningkat dan tingkat grogi juga mulai meninggi ketika melihat pelamar lain yang notabene Nampak lebih menguasai musik daripada gw. Di tes itu kita diminta untuk menulis judul lagu dan penyanyinya. Owkey tes dimulai… lagu pertama.. bisa… lagu kedua… tahu judul… lupa penyanyinya… lagu ketiga… mulai bingung dan melihat ke arah pelamar lain. Lagu keempat… ada yang nyeletuk… “anjrit gw udah tua banget ya ini lagu kan masa smp…” dan yang ngomong ini adalah seorang penyiar senior(diantara para pelamar) asal Yogyakarta. Which mean I have no clues at all tentang lagu yang dimaksud. Mending lupa judulnya, perasaan baru sekarang denger lagu ini. Arggh!!! lagu – lagu berikutnya terus diputarkan, mata mulai melirik kearah kertas jawaban sebelah, mulai melirik ke temen gw sindy yang Nampak tenang-tenang saja ngerjain tesnya, mulai ngelirik pelamar laen yang lumayan bening (daripada pusing mending liat yang cantik2 bukan?)

Akhir tes tebak judul lagu tersebut, kayanya hasil yang didapat lumayan lah. Sempurna siy jauh tapi setidaknya 70-80% terjawab dengan penuh keraguan. At least I give it my best. Kelar tes kita kembali menunggu di ruang tunggu untuk melihat kelanjutan dari tes hari ini. Moment nunggu ini jadi satu moment yang mendekatkan diri gw dengan Allah. Doanya kenceng gila, komplit dengan nazar puasa. Dari interview hari ini akan diseleksi lima orang yang lanjut ke tahap selanjutnya.

Kurang lebih setengah jam menunggu akhirnya muncullah perwakilan dari radio, staf hrd dan seorang penyiar akan menyebutkan 5 orang nama yang akan lanjut ke tahap selanjutnya. Nama pertama yang disebut…. Bukan gw. tapi seorang pria yang juga berprofesi sebagai pengajar bahasa yang tadi sempat disinggung di awal cerita. Kalo lihat tampilannya siy memang mencirikan penyiar esmud banget (metroseksual abiez deh) jadi dalam pemikiran gw wajarlah kalo dia lolos, orang kedua, seorang wanita yang juga siaran di satu radio di Jakarta, yang ini juga dari pas ngobrol-ngobrol sudah menunjukkan potensi untuk bersinar diantara yang laen. Outlooknya juga cukup menjual mirip mulan (waktu zaman interview masih kwok sekarang udah jadi jameella ‘oot mode on). Orang ketiga, penyiar senior dari yogya. (gak perlu banyak koment yang jelas dia dulunya siaran di jaringan radio dimana studio radio Jakarta terletak di Gdg.ratu plaza). Orang keempat seorang wanita yang juga bekerja di salah satu televise swasta. Orang kelima… alhamdulillah nama gw disebut. Tadinya giliran denger nama gw disebut mau loncat2 terus bilang hore tapi berhubung empat orang sebelumnya tenang-tenang aja ya sudah gw ikutan act cool. Tahap satu lolos tahap selanjutnya tinggal interview salary.

Interview salary berlanjut sebulan kemudian, terjadi kesepakatan (hooray I got my first job biar kata part time tapi tetep bersyukur dunks)

0 comments:

Poskan Komentar