web 2.0

2/04/2009

next chapter

Training ground

Yang namanya baru masuk kantor pastilah ada dong namanya periode adaptasi atau mungkin sering kita bilang masa training. Begitu pula masuk radio. Di radio yang gw masukin ini traningnya singkat banget (kemungkinan besar karena emang kekurangan penyiar kali ya... hihihi) yang jelas selama training di radio kita diharapkan untuk lebih terbiasa lagi dengan station ID’s, cara menyapa pendengar, tag line atau kurang lebih kita memperdalam pengetahuan kita pada characteristic radio yang kita wakili.

Karakteristik radio kaya apa siy? Definisi pastinya juga mungkin gw bukan orang yang tepat untuk menjelaskan tapi kurang lebih kita harus bisa menyesuaikan gaya bicara, tutur kata, pilihan pemakaian kata yang sama dengan yang biasa pendengar kita pergunakan. Contoh aja radio berita yang memberikan informasi lalu lintas atau kejadian terbaru yang terjadi di dunia dimana pendengarnya mayoritas berusia diatas 25 tahun. Kan rasanya kurang enak kalo kita dengar tiba-tiba penyiarnya bicara :

“baiklah pendengar sekalian/ guys.. loe pada yang lagi otw ke pamulang/
hati-hati aja ya karena gw dapet kabar dari TMC yang bilang kalau daerah
cirendeu dan ciputat lagi banjir/...”

coba aja dibandingkan sama yang seperti ini :

“Baik pendengar sekalian/ Bagi anda yang sedang dalam perjalanan/ atau berencana
untuk menuju ke daerah pamulang hari ini// kami mendapat kabar dari rekan kami
di Traffic Management Center Polda Metro Jaya bahwa terdapat genangan air
setinggi 60 cm di Jl. Ciputat Raya/ sementara di Jl. Cirendeu raya genangan air
saat ini setinggi 30 cm// ...”

Yes I know script yang gw bikin jauh dari sempurna tapi kurang lebih begitulah... i know you guys got the point. (hehehe bgini ini niy contoh penulis yang tidak bertanggung jawab)

Pilihan bahasa juga termasuk dalam bagian yang harus disesuaikan oleh seorang penyiar agar sesuai karakter radionya. Bila mewakili para Eksekutif pria ya alangkah lebih baik bila kata-kata seperti bo’, ne’, cabcus..., hyuk mari...’ dan bahasa-bahasa lain yang tersedia di kamusnya Debby Sahertian dikurangi bahkan kalo bisa dihilangkan.

Beberapa hari yang lalu gw pas lagi nonton liputan berita di TV mengenai buah mangga. Selesai info tersebut disampaikan kedua pembaca berita itu membahas sedikit mengenai liputan mangga terkait. Dan tiba-tiba pembaca berita prianya bilang “ ehm.. jadi ingin ngerujak...” coba bayangkan seorang news anchor pria dengan tampilan yang sangat berkelas, outlook yang menarik banyak kaum hawa bilang lagi ingin ngerujak. Kurang macho gimana gitu rasanya...

Itu baru dari gaya bicara aja, karakteristik radio juga bisa dibangun dari musik atau lagu yang dimainkan karena yang namanya radio selain jualan kemampuan penyiar dalam menjaga hubungan dengan pendengar juga menjual lagu yang diputar di radio tersebut. Nah, struktur di radio biasanya siy ada jabatan atau posisi yang namanya music director, beliau inilah yang bertanggung jawab buat menentukan playlist harian lagu-lagu yang akan diputar. Isi playlist itu sendiri nanti bisa dibagi antara high/heavy, medium, rare/low rotation istilahnya sendiri mungkin tiap radio beda-beda ya.

Owkey.. high rotation, ini biasanya lagu-lagu baru atau lagu lama yang memang punya radio airplay tinggi. Bisa diputar mungkin sampai 2/3 kali sehari. Medium rotation bisa jadi termasuk lagu-lagu yang mewakili segmen radio tersebut contoh radio dengan segmen Jazz punya koleksi lagu-lagu Jazz yang diputar secara berkala. Lagu di kategori ini akan jauh lebih luas cakupannya dibandingkan dengan yang heavy rotation dan kemungkinan dirotasi kurang lebih 2 atau 3 kali seminggu. Lalu ada low rotation kalo yang ini biasanya siy termasuk lagu yang ada di library music radio tersebut tapi diputarnya syukur2 sekali sebulan. bisa-bisa lagu tersebut hanya jadi koleksi music library aja.

Dan biasanya siy dalam satu playlist seorang MD akan membagi playlist harian antara ketiga jenis rotasi tersebut. Pembagiannya bagaimana kembali lagi ke selera MD dan target pendengar radio bersangkutan.

Tapi kalo mau tahu jumlah lagu yang ada di playlist... kita pake itung-itungan bocah aja kali ya. Rata-rata durasi lagu berkisar antara 3-5 menit. Kalo 1 jam 60 menit berarti ada slot untuk kurang lebih 12 lagu. (3 * 12 kan cuman 36 menit??) jangan lupa juga dong di satu jam siaran kan ada iklan dan ada saatnya penyiar bercuap-cuap. Kalo dalam satu jam penyiarnya gak ngomong berati itu penyiar makan gaji buta bos.

Lanjut... 1 jam 12 lagu dan rata-rata radio siaran itu mulai dari jam 5 pagi – 1 malam (20 jam siaran karena ada kan yang mulai memutarkan lagu-lagu 1 jam terlebih dahulu sebelum ada penyiar atau 1 jam sesudah penyiar malam tutup siaran) berarti satu hari aja MD harus menyiapkan rundown untuk 150-200 lagu. Sepengetahuan diriku yang terbatas mengenai dunia broadcasting ini biasanya lagu-lagu tersebut baru di rombak ulang dalam kurun waktu mingguan atau bulanan. Selama kurun waktu tersebut ya paling yang ada di playlist dibolak-balik, yang hari senin dipasang pagi hari, hari selasa jadi sore hari atau mungkin baru diputar lagi hari kamis pagi.

Tiap radio juga punya style sendiri dalam memutarkan lagu. Ada yang tipe satu lagu langsung penyiar talk on-air, ada yang tipenya talk-2 lagu-iklan-lagu-talk, ada yang talk-1 lagu-iklan-1 lagu-talk. Format ini semua tergantung kebijakan dari program director.

Apa lagi ya yang biasa diperluin buat training...? masih banyak siy... tapi untuk pengenalan seorang penyiar ke stasiun radionya kayanya cukup segini aja ya... udah bingung juga cara nyeritainnya... nanti lanjut di bab berikut kali y... :)

0 comments:

Poskan Komentar