web 2.0

5/04/2012

Anaknya si itu...

Mungkin penggalan kalimat diatas sering kita dengar di kehidupan kita, baik itu dari ibu kita sambil melihat tayangan infotainment yang menayangkan kehidupan selebriti, atau obrolan antar rekan di kantor mengenai seorang rekan lain yang mungkin saja lahir dari keluarga dengan keberadaan orang tuanya adalah orang yang penting di negeri ini. Atau bisa juga dari obrolan abg di meja belakang di suatu food court mengenai seorang anak remaja lain yang sepertinya jadi “mas boy” zaman sekarang. (harus ya analoginya pakai mas boy... ha3 biar ketauan angkatannya aja)


Anyway, gak bisa munafik bahwa kita hidup di suatu masa dimana jaringan adalah hal yang penting dan signifikan dalam membangun karir dan kehidupan kita. Bila dulu menjadi seorang pintar saja mungkin sudah cukup untuk menjadikan kita seseorang. Saat ini bila orang tidak mengetahui siapa anda... gak bisa munafik pasti akan lebih sulit bagi anda untuk dapat mendapat kesempatan bila dibandingkan dengan mereka yang memiliki keunggulan jaringan. Dan biasanya yang memiliki orang tua dengan jaringan yang baik akan lebih dekat dengan berbagai akses kemudahan dibandingkan dengan yang lainnya.

Hal tersebut jujur buat gw fair-fair aja, toh kita gak pernah bisa milih kan kita lahir dari keluarga yang mana... kemarin gw sempat baca buku “never eat alone” karya keith ferrazi, disitu diceritakan bagaimana ayah keith terus menerus berusaha untuk mengenalkan anaknya kepada lingkungan yang lebih baik dengan harapan sang anak akan menjadi atau terbiasa dengan lingkungan yang pada kasus buku tersebut lingkungan yang lebih tinggi tingkat akademisnya.

Dasarnya apa siy gw bikin tulisan ini, mungkin karena sedikit sirik saja kali ya... melihat kemudahan yang didapatkan orang lain tersebut, tapi setelah dipikirkan ulang... kondisi “anak si itu” pun bisa menjadi bumerang tersendiri... let say anda anak dari seorang Guru Besar di kampus, pasti beban anda untuk menunjukkan prestasi pendidikan akan lebih berat dibandingkan dengan anda anak dari seorang yang tidak berkecimpung di dunia akademik. Atau anak dari seorang Pimpinan perusahaan... ya udah pasti disetiap langkah akan selalu muncul istilahnya “dibawah bayang-bayang” nantinya mau sebagus apapun kita, akan selalu muncul sentiment-sentimen negative “ya iyalah, anaknya si itu…”.

Now, for those of you who might have a slight thought of envy towards those people, how bout if we put ourself in their shoes... gak seru juga kan ya... jadi... lebih baik kita coba belajar dan terus belajar untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki. Dan terus bersyukur karena katanya siy semakin banyak bersyukur semakin banyak juga nikmat yang akan kita nikmati(eh bener gitu gak siy... entahlah)

ngutip dari tweet seorang sahabat (@dikfat7) yang juga ngutip ucapan seorang porter di bandara... "Hidup boleh kekurangan pak... yang gak boleh berkurang itu bersyukurnya...."

#selfreminder :
ini draft udah sempet disusun lama dan baru dijenguk lagi abis pulang cuci mobil jam 4 pagi kelar el clasico dimana madrid menang 2-1. kenapa baru lanjut... karena di tempat cuci mobil itu... gw ketemmu tukang cuci mobilnya masih bocah-bocah banget... paling banter SMP kelas 2... gila ya... ini bocah-bocah kerja fisik kena air dingin malem-malem dan jujur gak liat muka komplainan gw... terus kenapa gw suka ngomel sendiri yaa... kalo terpaksa harus lembur nambah 3-4 jam dari jam seharusnya pulang kantor... man jadda wa jadda... dia yang bersungguh-sungguh akan berhasil... insyaallah. amien...

0 comments:

Poskan Komentar