web 2.0

8/11/2013

Bagai tikus dan kucing

Kalau ada satu hal yang suka gw lakuin pas weekend dan sulit dipercaya sama orang lain adalah lari pagi. (okey koreksi, bukan lari pagi lebih tepatnya jalan pagi sambil nyari sarapan nasi uduk khas orang betawi yang banyak tergusur ke pinggiran kota) kalau bahasa #pencitraan nya siy cross country run walaupun lebih tepatnya jadi lari-lari muterin kampung sekitaran komplek.

Rutenya gak jauh-jauh amat kok, standar kalau diukur pake apps endomondo (bukan sponsor) paling hanya sekitar 2 mil, durasi latihan paling maksimal 1 jam. Kalau kelamaan takut pingsan di jalan dan susah nyari orang buat gotong badan segede ini. (talking about knowing your own limit)


Anyway, sebagaimana tadi dibilang cross country. Lintasan muter2in kampung ini terdiri dari lintasan aspal, konblok (gak tahu penulisan benernya gimana dan males liat mbah gugel buat tau penulisan aslinya gimana), dan jalan tanah berbatu. Berbeda dengan kalau lari pagi di senayan yang rutenya relative rata semua, jalur muterin komplek ini lebih bervariasi, dan entah kenapa hampir pasti setiap kali lari pagi ada saja ketemu bangkai tikus mati (kalau bangkai ya udah mati kali bay!) di tengah jalan.

Ini tikus-tikus kenapa banyak banget ya? apa mungkin jumlah tikus melebihi jumlah kucing liar yang ada? atau jangan-jangan kucing yang ada sekarang prefer cari makan di tong sampah daripada nguber-nguber tikus ini?

Sebagai generasi yang tumbuh bersama Tom & Jerry gw diajarin bahwa tikus merupakan mangsa, sementara kucing & ular adalah predator alaminya. (sambil inget-inget pelajaran SD dulu tentang rantai makanan)


Coba lihat sekarang, apa iya kucing-kucing di sekitar tempat tinggal kita masih nguber-nguber tikus? Justru lebih banyak kucing yang nongkrongin kolong meja di warung makan dan tukang-tukang jualan iya kan? bahkan sering juga terlihat sibuk mengorek kantong plastik sampah.

Mungkin ini yang disebut evolusi, dimana kalau menurut Wikipedia adalah perubahan pada sifat-sifat terwariskan. Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama yakni seleksi alam dan hanyutan genetik dimana adaptasi akan terjadi melalui kombinasi perubahan kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak. Dan, kucing-kucing yang ada saat ini merupakan turunan dari hasil adaptasi pendahulunya yang sudah ribet ngejar-ngejar tikus dan memilih untuk cari makanan yang gak perlu pakai lari-lari.

Kalau iya begitu, bagaimana cara guru-guru di sekolah sekarang mengajarkan tentang rantai makanan ya, kalau apa yang diajarkan di buku berbeda sama yang dilihat di lapangan?

Lalu bagaimana dengan manusia? tingkah laku kita sekarang yang saking canggihnya gak perlu ribet bertatap muka untuk berkomunikasi, gak perlu capai menemani anaknya bermain karena sang anak sudah asyik sendiri dengan gadget di tangan mereka. Gak perlu pegel ngantri di antrian karena bisa belanja sambil leyeh2 di kamar.

Kira-kira kedepannya, apa iya istilah manusia sebagai mahluk sosial tetap tepat kalau kita sendiri asyik dengan teknologi dan mengesampingkan lingkungan sosial disekitar kita? Wallahualam bi sawab.

0 comments:

Poskan Komentar