web 2.0

9/03/2013

Have I served my country?


“We are now living in a meritocracy era or at least moving toward its” kurang lebih itu satu phrase yang gw tangkap dari kuliah umum yang disampaikan oleh Bpk. Anies Baswedan pada kuliah Perdana bagi mahasiswa pasca sarjana Universitas Paramadina angkatan 2013-2014.

Apa itu “meritocracy”? kalau dilihat dari Wikipedia, meritocracy is a political philosophy that holds power should be vested in individuals according to merit. Advancement in such a system is based on perceived intellectual talent measured through examination and/or demonstrated achievement in the field where it is implemented.

Singkat kata, satu era dimana orang diukur berdasarkan kemampuan apa yang dimiliki dan dapat diberikan kepada perusahaan atau lingkungan, bukan lagi era dimana orang hanya dilihat berdasarkan pada siapa keturunan siapa atau siapa kenal siapa. Which is good news for some but might be a very bad news for the others.

Kalau cek kuliah-kuliah dari beliau yang diunggah di Youtube akan seringkali diutarakan terkait dengan data-data jumlah sekolah yang ada di Indonesia saat ini. Saking penasarannya, isenglah gw cari ulang data jumlah sekolah yang ada di Indonesia. dan mendapat beberapa data sebagai berikut :

1.1 Jumlah Sekolah di Indonesia
 *data diknas
Data diatas diambil dari situs Depdiknas, berupa jumlah sekolah yang ada di Indonesia baik itu Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) baik negeri maupun swasta, dimana untuk mempermudah tampilannya maka ke 33 provinsi yang ada dikelompokkan menjadi 3 wilayah yakni Indonesia Barat (P. Jawa & P. Sumatera) , Indonesia Tengah (P. Kalimantan & P. Bali & Nusa Tenggara) serta Indonesia Timur (P. Sulawesi, P. Maluku & P. Papua) for details mungkin table yang ada dapat lebih membantu.

Sekilas dari tahun ke tahun selama periode tersedbut diatas dapat kita lihat bahwa jumlah SD jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah SMP dan jumlah SMA. Terus kenapa emangnya bay? Gak kenapa-kenapa siy… bingung aja…

Bagaimana  pada tahun ajaran 2007/2008 lulusan dari 144.567 sekolah dasar dapat ditampung di 26.277 Sekolah Menengah Pertama, dan bagaimana lulusan 26 ribu lebih SMP tersebut dapat ditampung di 10.239 Sekolah Menengah Atas. Dari 144  ribu SD ke 26 ribu SMP saja berarti hanya +/- 18% dari SD yang dapat ditampung di SMP. Dari total lulusan SMP yang ada, hanya 38% yang dapat ditampung di SMA. Jadi bisa juga kita bilang bahwa jumlah SMA yang ada saat ini hanya dapat menampung 7% jumlah lulusan dari SD yang ada. Terus yang 93% lainnya apa kabar?

Sekarang kalau kita balik ke paragraph pertama tulisan ini, dimana kita saat ini condong hidup pada era meritokrasi. Dimana orang akan dikaryakan berdasarkan pada kemampuan apa yang dimiliki maka apakah cukup kiranya yang minoritas dan menerima pendidikan tersebut diatas untuk memenuhi lapangan pekerjaan yang ada? Terlebih kita akan menyambut AFTA, rasanya males juga ya kalau nanti banyak WNA dari negara tetangga yang bekerja di Indonesia hanya karena mereka dianggap memiliki kemampuan lebih dari kita (at least dapat pendidikan lebih tinggi dari mayoritas WNI)

Terus kita bisa apa? Nah itu dia pertanyaannya… 

Kalau Si Bapak Rektor siy udah mencetuskan yang namanya Indonesia Mengajar, kalau Pandji (love his works) melakukannya dengan cerdas sekali salah satunya via menulis “Berani Mengubah”. Beberapa orang yang anda kenal atau mungkin anda sendiri mulai dengan membantu mengajar di berbagai komunitas yang ada di wilayahnya. Atau lebih ekstrim lagi mengajar di pedalaman untuk satu periode tertentu seperti orang-orang hebat di Indonesia Mengajar. (for more detail about IM, silahkan search di google) 

jadi… kalau gw bisa apa ya?

Mengutip satu phrase dari JFK “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country” rasanya pasti akan sangat asyik, bila kita sebagai warga sipil biasa tanpa pernah mengikuti pelatihan militer, tanpa memegang bambu runcing, tanpa latihan ekstrim untuk jadi seorang atlet mengatakan “I have served my country”

0 comments:

Poskan Komentar