web 2.0

12/22/2010

En.. Do.. ne.. Sia... uhuk uhuk

En do Ne sia... Yup penggalan kata itulah yang berkumandang seantero Gelora Bung Karno. Ceritanya siy lagi menonton pertandingan piala AFF antara Indonesia vs Thailand. To be honest this is the first time i’ve ever watch my national team played live. Langsung dari lapangan... tapi jujur gw gak mau bahas mengenai pertandingannya. Kenapa tidak, karena gw bukan bung kus yang jago analisa n dibayar jadi komentator pertandingan. Tapi tulisan ini hanyalah suara hati seorang anak manusia yang jadi penonton pertandingan sepak bola di GBK. (bahasanya lebay mau disambit gimana gitu!)

Okey kembali ke bahasan sebagai seorang penonton. Got to admit that we have probably the biggest stadium in the world. Bayangin aja kalau kita jadi tamu di GBK betapa angkernya kalau ada 120.000 orang menjadi koor mendadak memberikan dukungan bagi lawan kita. That’s BIG bro. Sayangnya ada faktor yang bikin gw eneg selama pertandingan ini adalah asap.
Bukan... bukan asap petasan yang dibakar penonton di tribun atas, kalo itu mah paling akan bikin nyesek para pemain di lapangan sebentar, tapi asap dari sebatang rokok yang dibakar sama orang yang kebetulan duduk disebelah kiri, kanan, depan dan juga belakang rombongan kami. Apa iya ga bisa ditahan itu kebiasaan bangsa 2 jam saja. (klo Audy 1 jam, nah nonton bola lamaan dikit deh). Toh diluar stadion kebiasaan merokoknya masih bisa dilanjutin lagi. (di speaker stadium baru saja terdengar suara seorang wanita yang menyatakan bahwa jumlah penonton di GBK ada 56000 jiwa... wow, 56000 baru ½ kapasitas aja sudah sangat ramai, bagaimana kalau full ya)






2 gambar diatas adalah gambar para perokok yang sempat diabadikan (di sebelah kanan, dan di depan rombongan) tadinya yang belakang dan sebelah kiri mau didokumentasiin juga, tapi ngeliat tampilan yang ngerokok maka penulis memutuskan untuk tidak jadi ngambil gambar mereka. (he3)

Kembali pada para perokok...
Bos! Ini kita ada di arena olahraga, jangan hanya pemain dong yang menjaga kesehatan dan menjunjung sportivititas. (sok bijaknya mulai niy) Tapi boleh kan kita sebagai sesama penonton, yang notabene sama-sama bayar, sama-sama datang buat ngasih dukungan ke Timnas, sama – sama duduk di satu wilayah yang sama untuk saling jaga kenyamanan orang-orang di sekitar kita. Banyak warga asing yang sering mengungkapkan warga indonesia ramah – ramah. Apa jangan-jangan kita hanya ramah kepada warga asing, merasa sungkan dan jaga image kepada orang yang benar-benar asing bagi kita, tapi justru acuh dan seenak kita ketika berhadapan dengan sesama warga En Do Ne Sia...?

0 comments:

Poskan Komentar