web 2.0

2/02/2013

Di Januari ini...

Awal tahun seringkali dipenuhi dengan impian dan harapan baru, resolusi baru or so they say… bagi beberapa industry atau kantor, januari seringkali berarti saatnya untuk jalan di gigi 1, siapin diri untuk kembali berpacu dengan transmisi lebih tinggi di bulan-bulan kedepannya. Akan tetapi januari ini justru terasa lebih dingin dan basah bagi warga masyarakat di desa Patia dan Kubangkampil di Pandeglang Banten.
Kenapa begitu? Karena mereka mengawali tahun ini dengan limpahan air bah yang menghampiri pemukiman mereka. Tidak hanya sematakaki, sebetis ataupun sepinggang tapi bahkan ada wilayah yang tergenang ketinggian air sampai 3 m. (yup, 3 meter saudara-saudari sekalian…)
dan berikut ini adalah cerita perjalanan gw ke wilayah tersebut pada akhir bulan januari ini.

Day 1 (26 Januari 2013)

09.00

Sebagaimana notifikasi email, maka kami direncanakan untuk berkumpul jam 9 pagi di kantor cabang syariah pondok indah. Dan… setelah berkumpul semua pada jam 11 siang, mulailah rombongan relawan ini berangkat… tujuan pertama adalah… “Makan Siang” ya iyalah… disangka packing barang-barang sumbangan ke 3 mobil dan 2 pick up gak makan energy bos… pegel kalii…

13.00
Makan siang, sholat Dzuhur… oke… mari kita berangkats…

Basically siy… wilayah tujuan kami searah dengan ke Tanjung Lesung, berangkat jam 12an siang, sampai di lokasi jam 5 sore. (Perjalanan panjang juragan…!)

Langsung loading barang…



Kelar semua barang diturunkan… saatnya istirahat… karena malam ini… masih panjang…


Btw, here is a glimpse view of our basecamp… 


Mancing Maniaaaa..... :)

19.00


Pada kegiatan ini, kantor kami tidak bergerak sendiri. Kami bersama dengan rekan-rekan dari YPC (Yayasan Pandeglang Cerdas) bergerak bersama untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga korban kebanjiran di wilayah ini. setelah makan malam bersama dan beramah tamah serta sesi perkenalan




20.30


Kembali kita bekerja…

Basically, kardus-kardus berisi barang bantuan yang tadi masih dalam kardus itu perlu dibongkar dan dimasukkan ke dalam satu paket bantuan yang berisi bahan-bahan pokok seperti bahan makanan dan peralatan mandi dan kesehatan. Targetnya adalah menyiapkan 400 bungkus bantuan.

Bagaimana keseruannya… lihat saja sendiri ya…
nyusun strategi
 
Implementasi


“Sudah 100 bungkus… ayo 300 lagi!” teriakan dari korlap kami memberi tahu berapa banyak yang sudah rapih… ketika dibilang sudah 100 ini, jujur aja yang namanya tangan sudah mulai gemeteran dan baju sudah basah karena keringat. Tapi okelah… lanjutGan!

Terus Semangat!!



Sedikit lagi...

Done....


Alhamdulillah, 400 bungkus rapih… cek jam…
astaganaga jam sebelas malam….
Saatnya istirahat… “ZzzZzzZzz…”

Day 2 (27 Januari 2013)

Minggu pagi dengan kondisi badan rontok seperti habis ditabrak tronton… (okey  lebay… I know… tapi sepertinya perlu untuk menekankan kondisi badan saat itu) Tapi Allah S.W.T memang Maha Kuasa.

Minggu pagi ini… bisa lihat pelangi


For more picture feel free to check this site


08.30
Off to first site…

Nama desanya kubangkampil, kampil ini menurut warga lokal siy berarti karung goni. So kubangkampil kemungkinan berarti wilayah yang penuh dengan karung goni. (iyeee gw ngasal… tapi beneran deh kampil itu katanya karung goni) rute menuju lokasinya… ajojing jo…



han to the cur...!

Dan disini sudah berkumpul warga untuk menerima bantuan serta mengikuti layanan pengobatan gratis


Awalnya siy rapih...
Sambung - menyambung menjadi satu...

RAMAInyooo
Sehat itu Mahal Jendral...

promo situs  kantor dikit ya.... siapa tahu ngaruh ke bonus #eh :)


10.00


Kembali ke basecamp dan bersiap menuju lokasi kedua, rencananya siy berangkatnya nanti setelah makan siang agar sekaligus pulang.
Sampai di basecamp, lurusin kaki sebentar… dan saatnya loading barang lagi untuk ke lokasi kedua.

Hup! Hup!

Loading done, istirahat… nunggu makan siang.

13.00

 Sebelum berangkat, sedikit seremonial terlebih dahulu untuk kerjasama yang dibina antara kantor dengan YPC (Yayasan Pandeglang Cerdas)

Salut saya ke yayasan ini, para penggerak yayasan ini sepertinya sangat memegang prinsip agar jangan jadi kacang yang lupa kulitnya. Basically mereka adalah putra-putri daerah pandeglang yang kini kondisinya relatif sudah mapan dan tersebar wilayah kerjanya di berbagai daerah dan bidang industri.

Hebatnya… mereka bergabung dan berusaha untuk membantu putra-putri pelajar di pandeglang agar lebih mudah dalam mengakses pendidikan yang lebih tinggi.

Wonder if jakarta citizen would do such a thing like this…?

Lokasi ke dua adalah Desa Patia, disini kabarnya siy kemarin banjir bahkan mencapai 3 m tingginya… secara lokasi kedua desa yang berdekatan dengan pantai ini awalnya membuat gw berasumsi bahwa banjir ini disebabkan karena pasangnya air laut. Banjir rob seperti yang biasa dialami saudara-saudara kita di bagian utara jakarta… ternyata tidak. Air justru hadir dari arah gunung, menyusuri bantaran sungai dan sukses membuat air meluap dan membanjiri wilayah-wilayah ini.

Pertanyaan berikutnya… pernah bawa mobil di tengah sawah? Seru kawan seru…


Dan di desa ini kami disambut oleh warga yang sepertinya sudah menunggu sejak dzuhur…

masih rapih antriannya...
mulai khawatir,,,

pasrah...


Ya sudah... foto-foto aja...


Ada beberapa moment selama kegiatan ini yang membuat hati gw terenyuh (yup… ternyata mahluk produksi kota besar semacam gw begini masih punya hati) salah satunya adalah :

pada saat pemberian bingkisan bantuan ini, salah seorang warga mencium tangan dari salah seorang relawan. 

“Ya robbi… nek… gak perlu cium tangan segala kali… ini juga kita hanya bantu menyalurkan aja… bukan dana kita juga kok… hanya saling membantu sesama aja… alhamdulillah gw bukan mbak andin yang dicium tangan sama nenek itu… bisa nangis gw…” - katahati

Help yourself by helping others… #selfreminder

Alhamdulillah acara berjalan lancar semuanya… 
saatnya kembali ke Jakarta…

0 comments:

Poskan Komentar